Iklan

Senin, 06 Juli 2015

Dipercaya Punya Nilai Mistis, Ziarah Harus Hari Rabu

Ziarah Harus Hari Rabu, Dipercaya Punya Nilai Mistis

Satu tradisi religius yang tak terlupakan menjelang lebaran di Lombok Tengah yaitu, mengunjungi makam keramat. Sebagian warga percaya, makam para tokoh agama besar itu bisa menyambungkan doa mereka ke Sang Maha Pencipta.
LOMBOK TENGAH - LOMBOK NEWS - Di wilayah selatan Gumi Tatas Tuhu Trasna, ada dua makan keramat yang biasa dikunjungi warga. Yaitu makam Nyatok di Desa Rambitan dan makam Kyai Sri Jati di Desa Sengkol. Tepatnya di area masjid kuno Gunung Pujut.
Ternyata, tidak saja masyarakat Loteng. Tapi, bebarapa warga kabupaten/kota di NTB dan sebagian Indonesia, termasuk luar negeri datang melaksanakan tafakur, salat hajat dan ritual.
Dari dua makam tokoh agama besar, makam Nyatok menjadi satu-satunya pusat perhatian masyarakat. Mereka mempercayainya, setiap tafakur yang dilaksanakan almarhum Wali Nyatok Ajan bisa menyambungkan permintaan mereka dengan Allah SWT. Itu pun pada hari Rabu saja. Tidak boleh diluar hari itu.
Kalau melanggar, maka dipercaya tidak dikabulkan tafakurnya. Juru kunci serta masyarakat setempat pun melarang peziarah datang.
Setiap pekan di hari Rabu, makam Nyatok dipadati pengunjung yang datang dari berbagai daerah. Jelang lebaran, tepatnya pada 8 Juli dan 15 Juli mendatang, area pemakaman dipastikan padat merayap.
Mereka tidak saja menghabiskan waktu berjam-jam di lokasi pemakaman. Tapi, ada sebagian dari mereka bermalam dengan membangun tenda dan tempat tidur seadanya.
Pemerintah pun menetapkan makam Nyatok sebagai benda cagar budaya yang dilindungi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992. Nama Nyatok sendiri diambil dari pendiri masjid kuno Rambitan.
Juru kunci makam dan masjid mengungkapkan, nama pendiri masjid yang dimaksud banyak. Namun, yang lebih dikenal yaitu Wali Nyatok Ajan atau disingkat Wali Nyatok.
Konon, Wali Nyatok merupakan tokoh agama besar di Pulau Lombok. Dia sejajar Wali Songo di Jawa. Sampai sekarang, tidak ada catatan kepastian tanggal, bulan dan tahun berapa Wali Nyatok mendirikan masjid kuno Rambitan hingga dimakamkan di pemakaman Nyatok.
Namun, para juru kunci makam dan masjid mengaku mendapatkan petunjuk, hingga diturunkanlah satu catatan penting. Isinya, keberadaan Wali Nyatok dengan segala aktifitas keagamaannya terjadi pada abad ke-16.
Wali Nyatok pun dianggap memiliki kekuatan spiritual yang luar biasa. Salah satunya yang tidak bisa terbantahkan adalah, berdirinya masjid kuno Rambitan.
Sebagian warga mempercayai, masjid itu berdiri dengan segudang mistis. Di mana, masyarakat Desa Rambitan dan sekitarnya kala itu, tidak pernah melihat wujud masjid. Tapi, mereka mendengar lantunan ayat-ayat suci Al quran dari jarak kejauhan. Saat mereka mendekat, yang ada justru tanah lapang nan tandus.
Posisi kiblat masjid itu juga konon mengarah ke Kabah di Mekkah. Jika ditarik lurus, maka tidak ada bengkok-bengkoknya. Seluruh bangunan kayu dan peninggalan Wali Nyatok utuh, tidak termakan usia.
Sebut saja empat pilar masjid, beduk, mimbar, lantai yang terbangun dari tanah liat dan kolam.
Masjid peninggalan Wali Nyatok itu pun, hingga kini tetap difungsikan sebagai tempat peribadatan salat lima waktu. Kecuali, salat Jumat atau hari besar agama.
Masjid itu juga masuk dalam benda cagar budaya. Juru kunci masjid kuno Rambitan, Nuralim menekankan, keberadaan masjid dengan makan Nyatok tidak bisa terpisahkan satu sama lain.
Jika ada hajat, maka keduanya harus diperhatikan. Nuralim mengibaratkan, masjid adalah rumah Wali Nyatok di dunia dan makam merupakan rumahnya di akhirat. Sehingga, setiap pengunjung harus melalui tahapan dunia dan akhirat. Kecuali, mereka yang hanya ziarah saja. Tidak perlu datang ke masjid.
Begitu pula sebaliknya, jika bertafakur, salah hajat atau ritual, maka kedua-duanya dikunjungi. Lombok Post pun berkesempatan mengunjungi keduanya. Berawal dari masjid lalu ke pemakaman.
Dari cerita Nuralim, Wali Nyatok pada masa itu tidak bisa dilihat dengan kasat mata. Namun, seiring perkembangan waktu pada masa itu, dia pun menampakkan diri untuk menyebarkan agama Islam. Dia mengajarkan Islam watu telu atau waktu tiga.
Kala itu, warganya diminta membaca dua kalimat sahadat. Lalu melaksanakan puasa di bulan Ramadan pada tiga hari diawal, tiga hari di tengah dan tiga diakhir bulan.
Begitu pula salat, zakat fitrah dan salat Jumat serta hari raya idul fitri. Watu telu itu juga mengandung makna keberadaan Bapak dan Ibu serta Allah SWT.
Tujuannya adalah, meminta untuk mematuhi dan mentaati perintah kedua orang tua. Khususnya lagi, Sang Maha Pencipta. “Dari ilham yang saya dapatkan, beliau itu tidak suka nasi, beliau hanya mengkonsumsi bubur,” ujar Nuralim.
Atas dasar itulah, warga lingkar masjid mengikuti tradisi Wali Nyatok. Di mana, pada 10 Muharram setiap tahunnya, warga mengkonsumsi bubur putih. Dan pada 12 Safar, mengkonsumsi bubur merah. “Kegiatan yang kami lakukan itu sebagai wujud mengenang jejak beliau memperkenalkan keturunan kami dengan Islam,” ujar Nuralim.
Hingga kini, masjid kuno Rambitan ramai dikunjungi warga. “Posisi masjid dengan makamnya lurus mengarah kiblat. Khususnya pintu. Jika kita berdiri di halaman masjid, maka kita bisa melihat makamnya beliau dari kejauhan. Begitu pula sebaliknya,” tambah Nuralim.
Sementara juru kunci makam Nyatok, Lalu Normat menceritakan ada saja kejadian aneh atau mistis yang tidak bisa diungkap dengan kata-kata. Percaya atau tidaknya, keberadaan makam Nyatok menjadi buah bibir masyarakat, sehingga sebagian besar mereka telah merasakan hal-hal gaib.
Di luar batas nalar, menurut Normat memang hal itu dianggap kebetulan saja. Namun, dia mengingatkan agar masyarakat tidak sirik. Jika ingin meminta, ungkap Normat maka memintalah kepada Sang Maha Pencipta, melalui Wali Nyatok.
“Tapi saya ingatkan, kalau datang ke makam Nyatok harus malam atau hari Rabu. Tidak boleh di luar hari itu. Tolong ini diingat baik-baik,” ungkapnya.
Disinggung Lombok Post, kenapa harus hari Rabu dan apakah ada petuah dari Wali Nyatok. Normat menjelaskan, Rabu merupakan hari yang memiliki nilai mistis religius. Diperkuat melalui pesan keturunannya terdahulu. Melarang masyarakat ziarah selain Rabu.
Untuk menjaganya, Normat stanbay di makam Nyatok. Jika ada warga yang datang di luar hari Rabu, dia pun meminta dengan baik-baik untuk meninggalkan makam dan datang kembali pada Rabu.
“Kalau di makam Kyai Sri Jati dan keturunannya memang jarang dikunjungi masyarakat. Tapi, nilai mistisnya kuat. Hanya saja, tidak sembarangan orang yang mampu menembusnya,” sambung juru pemelihara masjid kuno Gunung Pujut Inaq Seli.
Biasanya, lanjut Inaq Seli pengunjung melakukan pertapaan di area makam atau masjid. Konon, di setiap pertapaan itu ada saja hal gaib yang muncul. (Lombok Post)

0 komentar:

Posting Komentar

Tag Terpopuler