Iklan

RAPAT KOORDINASI TEKNIS MONEV SKPD LOTENG

Pada hari Rabu tanggal 10 Juni 2015, telah dilakukan Rapat Koordinasi Teknis Monitoring dan Evaluasi (MONEV)

Bahasa Inggris Gratis Bersama Bule

Belajar gratis bahasa inggris dengancewek bule dan dapat sertifikat langsung

Tarawih Pertama di Masjid Syafaatul Khairi Telagawaru

Hari pertama Tarawih di Masjid Syafa'atuk Khairi Telagawaru begitu khikmat. tarawaih pertama di Bulan Suci Ramadhan 1436 H ini sedikit berbeda dengan beberapa tahun yang lalu.

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1436 H

Mohon Maaf Lahid dan Batin

MUHAMMAD ZAHID DAN KELUARGA

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1436 H

Kamis, 28 Mei 2020

Warga Desa Jago Positif Corona | Pemerintah Jago Tidak Mau Lockdown

Praya - Salah satu Warga Desa jago sudah Positif Corona, warga asal dusun Bunsalak Desa jago ini sudah dinyatakan Positif dari Hasil Swab, serta rilis yang telah Keluar.
namun pemerintah desa Jago tidak ada Upaya dalam mengurangi danpak tersebut.
seperti yang Terlihat hari ini, Pasar yang Berada di Wilayah desa jago tepatnya didusun Telagawru masih beroprasi. 
sampai saat ini Pemerintah desa jago belum ada Tindakan dalam hal ini.

Selasa, 16 Oktober 2018

Seminar Bisnis Cendol Omset Milyaran bersama Radja Cendol Danu Sofwan | ...

Senin, 15 Oktober 2018

Nikmatnya Telur Angsa Geprek

Kamis, 29 Juni 2017

Yusril warga Dusun Dayen Peken Desa Penujak Butuh Bantuan

Nama adik ini adalah Yusril Khairul Anwar yang baru berusia 17 bulan. Putra dari keluarga tidak mampu, Yusuf Atmaja dan Mustiana yang beralamat di Dusun Dayen Peken Desa Penujak kec. Praya Barat. Yusril kini harus dirawat di RSUD Praya karena sakit yang dideritanya semakin memburuk.
Kedua orang tua Yusril belum mendaftar sebagai puk bayar listrik demi kebutuhan penerangan sehari-hari saja sudah bersusah payah."Makanya hingga saat ini kami tidak berani daftar sebagai anggota BPJS. Kini saya bingung dengan biaya pengobatan anak saya ini,"katanya, rabu 28/6/2017 di RSUD Praya.
eserta BPJS, karena boro--boro untuk iuran BPJS setiap bulanya, unt
Untuk itu, orang tua Yusril saat ini berharap agar ada dermawan yang mau membantu untuk sekedar membiayai pengobatan putranya yang kini sedang terbaring lemah di RSUD Praya, dengan kondisi perutnya semakin membuncit setiap hari. Entah apa nama penyakit ini, orang tua Yusril belum mengetahuinya. (Rdksi)

Minggu, 22 Mei 2016

Ponpes Nurul Ijtihad NU Lenser Pujut di Tabrak Mobil pengangkut Barang 20 Ton

Innalillahiwainnailaihirojiun...sopir pengangkut barang 20toun ini mninggal dtempt setelah mnbrak tembok dan pkarangan ponpes Nurul Ijjtihad NU..Lenser kute kec pujut........
hari ini.
seperti yang di beritakan dari media sosial, oleh salah satu Dai Kondang Lombok Tengah, Lalu WIldan Arsyad
di akun Facebooknya  Wildan L

Rabu, 18 Mei 2016

Wajib baca..

HOTS adalah singkatan dari Higher Order Thinking Skills. Keterampilan berpikir tingkat tinggi. Artinya peserta didik bukan hanya menghafal data-data, tapi mereka sungguh-sungguh menalar. Untuk lebih jelasnya, kita lihat slide berikut:
Skema HOTS
Bila kita memperhatikan, pengajaran yang hanya mengandalkan "menghafal" dan mengerjakan sesuai dengan dcontoh-contoh, ada pada level rendah (yakni pada level sekedar mengingat, remember). Ada di papan bawah.
Level Pemahaman
Untuk sampai pad level ini, guru harus benar-benar memahami konsep yang diajarkannya. Guru tahu persis apa inti dasar dari konsep tersebut. Bila guru-guru kita mengajar dengan pemahaman seperti itu, para peserta-didik penuh dengan semangat (termotivasi) karena mereka keluar dari kelas dengan AHA-Experience (pemahaman yang membuat mereka penuh antusias).
Level HOTS yang lebih tinggi lagi, terjadi ketika konsep yang diajarkan oleh guru bisa diaplikasikan dalam hidup sehari-hari. Di sini para peserta-didik sungguh-sungguh menggunakan pengetahuan yang dipalajarinya dalam hidupnya sehari-hari.

Selamat hari Buku

Tuan Menyita, Kami Membaca (DAMHURI MUHAMMAD) "Caesar, maukah nama Paduka dikenang anak cucu sebagai tentara barbar yang terlampau bodoh untuk mengerti nilai penting buku-buku?" kata Theodotus kepada Caesar di sebuah adegan dalam lakon Caesar and Cleopatra karya George Bernard Shaw (1856-1950). Fernando Baez, penulis bukuPenghancuran Buku dari Masa ke Masa(edisi Indonesia oleh Penerbit Marjin Kiri, 2013), mengutip dialog itu demi menegaskan fakta tentang luluh lantaknya gedung Perpustakaan Nasional Baghdad berikut jutaan koleksi bukunya, Mei 2003, seiring jatuhnya Saddam Hussein. Ribuan kertas berhamburan. Ruang baca, kartu katalog, dan tumpukan buku-buku telah rata. "Inilah bab terakhir pendudukan Baghdad. Harta karun berupa dokumen-dokumen bersejarah dari zaman Ottoman, termasuk arsip kerajaan kuno di Irak, berubah jadi abu dalam panas 3000 derajat," tulis Robert Fisk, koresponden Independent untuk Timur Tengah, seperti dicatat Baez. "Kenangan kita tak ada lagi. Tempat lahirnya peradaban, tulisan, dan hukum musnah terbakar," keluh seorang profesor sejarah yang berdengung langsung di kuping Baez. Baez seketika teringat ungkapan kemarahan Theodotus itu. Dan, yang lebih memilukan, ingatannya terpelanting jauh ke masa lalu, pada peristiwa tahun 1258 di negeri yang sama. Masa itu pasukan Hulagu Khan menaklukkan kedigdayaan Dinasti Abbasiyah, menghancurkan semua buku di semua perpustakaan kota Baghdad dengan membuangnya ke Sungai Tigris. Tinta dan darah bersenyawa, dan mengalir sampai jauh. "Yang terbakar di sana adalah ingatan umat manusia," kata Theodotus, melanjutkan kemurkaannya kepada Caesar. Membenci ingatan Para biblioklas—istilah yang digunakan untuk para perusak buku—sesungguhnya tak memusuhi kertas-kertas berjilid, tetapi membenci ingatan yang dimonumentasikan oleh buku. Ingatan yang mungkin menakutkan, atau mengingatkan pada dosa- dosa masa silam. Novel 1984 karya George Orwell bahkan menggambarkan sebuah negara totaliter di mana pemerintahnya harus membentuk kementerian khusus yang bertugas menemukan, sekaligus melenyapkan ingatan masa lalu. "Masyarakat demokratis pun tak segan-segan menghancurkan buku demi memperkokoh penolakan identitas yang lain," ungkap Baez. Inilah jawaban bagi kegemparan akibat aksi penyitaan buku oleh aparat negara yang kembali terulang. Jika berpijak pada argumentasi dan kajian Baez, ada perlindungan hukum atau tidak, pelarangan, penyitaan, bahkan pemusnahan buku akan sukar dihindari. Kaum biblioklas tak akan pernah bosan sepanjang buku masih ditulis dan disiarkan. Bagi mereka, ikatan kuat antara buku dan memori membuat teks harus dibaca sebagai patrimonium budaya utama. Baez menjelaskan, "patrimonium" berasal dari bahasa Yunani dan merujuk pada padre (ayah) dan moneo(mengetahui, mengingat). Maka, "patrimonium" berarti yang diingat oleh ayah. Berbeda dengan"matrimoni" (pernikahan) yang berarti yang diingat oleh ibu, patrimonium budaya dimaknai sebagaiyangpaling representatif secara kultural dari suatu negeri. Ia menggugah rasa afirmasi dan kepemilikan, memperkuat atau menstimulasi identitas masyarakat di suatu wilayah. Perpustakaan, arsip, museum adalah patrimonium budaya, dan semua bangsa memandangnya sebagai kuil-kuil memori. Dengan demikian, dibaca atau tidak, buku bakal tetap dianggap ancaman. Tengoklah aksi membakar buku berjudulPemikiran Karl Marx; Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme karya Prof Franz Magnis-Suseno oleh Aliansi Anti Komunis, 19 April 2001. Dalil pembakaran adalah klaim bahwa buku itu bagian dari propaganda dan penyebarluasan Marxisme-Leninisme yang dilarang oleh TAP MPRS Nomor XXV Tahun 1996. Padahal, sebagaimana disinyalir oleh Robertus Robet, jika dibaca dengan saksama buku itu justru mengandung kritik tajam terhadap ideologi Marxisme. Pemusnahan buku tak kunjung berhenti. Pada 2007, Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah, yang diikuti oleh kejaksaan tinggi beberapa daerah, menghancurkan ribuan buku pelajaran Sejarah SMP/SMA atas dasar keberatan sejumlah pihak lantaran dihapusnya kata "PKI" dari kelaziman istilah Orde Baru: "G30S/ PKI". Di tahun yang sama, Jaksa Agung RI melarang peredaran lima judul buku, antara lain: Dalih Pembunuhan Massal(John Rossa), Gereja Umat Penderitaan(Socrates Sofyan Yoman),LEKRA Tak Membakar Buku (R Dwi Aria Yulianti dan Muhidin M Dahlan), Enam Jalan Menuju Tuhan (Dharmawan), danMengungkap Misteri Keragaman Agama(Syahrudin Ahmad). Meski dunia buku kemudian beroleh kabar baik dengan keluarnya keputusan Mahkamah Konstitusi, 13 Oktober 2010, yang menyatakan bahwa pelarangan buku bertentangan dengan konstitusi, tetapi aksi kaum biblioklas bagai tak kunjung letih. Terulang kembali, dan mungkin akan begitu seterusnya, sepanjang dunia buku masih berdenyut. Tegak di atas kepandiran Di kurun ketika ruang bagi kebebasan berekspresi telah sedemikian lapang dan tidak lagi terbatas di atas kertas-kertas berjilid, rupa-rupa dalil pelarangan akan sia-sia. Bagi para pengarang, apalagi saudagar buku, aksi pelarangan buku justru ditunggu, diam-diam tentunya. Heboh akibat penyitaan buku baru-baru ini akan membuat banyak orang memburu buku, bahkan kelompok yang anti buku sekalipun. Apabila penerbit kesulitan menyediakannya dalam bentuk buku berjilid, teknologi digital segera mengantarkan buku-buku itu ke tangan pembaca, tanpa halangan yang berarti, dan pasal-pasal dalam kitab hukum akan kepayahan mengejarnya. Dalam kemarau pembaca yang senantiasa melanda dunia literasi di republik ini, kita akan berutang banyak kepada kaum biblioklas. Sitalah buku-buku itu, kami akan lekas membacanya!Kepada tuan-tuanbiblioklas yang budiman, mungkin para pembaca hanya perlu menyuarakan maklumat ringan: bahwa, yang semestinya tuan ringkus adalah pikiran. Bukan buku-buku yang tanpa membacanya, lalu tuan anggap berbahaya. Perbuatan menyita buku adalah pertanda kekuasaan yang tegak di atas kepandiran.... DAMHURI MUHAMMAD, SASTRAWAN DAN PEKERJA BUKU; ALUMNUS PASCASARJANA FILSAFAT UNIVERSITAS GADJAH MADA
Selamat hari buku :-)

Tag Terpopuler

Slider

Latest News